Tata Cara Niat Shalat Sunat Gerhana Matahari dan Bulan


Advertisement
Advertisement
Banyak orang yang mengira bahwa gerhana matahari dan gerhana bulan adalah fenomena alam biasa yang tidak berbahaya bahkan kejadian ini tak ubahnya sebagai satu tontonan wisata yang secara ramai-ramai disaksikan oleh masyarakat. Padahal kejadian ini bukanlah fenomena alam biasa yang tidak berbahaya justru ini adalah kuasa Alloh yang telah mensejajarkan bumi, bulan dan matahari.

Pada peristiwa ini justru sangatlah emergensi dan bahaya bagi semua penduduk bumi karena tiga planet besar ini posisinya sejajar yang akan mengakibatkan daya tarik menarik yang amat dahsyat dan jika Alloh berkehendak terjadinya tabrakan maha dahsyat maka hancurlah bumi.

Disinilah kita harus benar-benar faham akan terjadinya gerhana agar kita semua senantiasa ingat akan kuasa Tuhan dan membuatnya kita tetap dalam keadaan rendah diri dan memperbanyak amal kebaikan, dzikir dan melaksanakan shalat gerhana sebagai mana yang telah dilakukan oleh baginda Rasulullah SAW.

bacaan Niat Shalat Sunnah Gerhana Matahari dan Bulan

Rasulullah SAW pernah bersabda,”Sesungguhnya matahari dan rembulan adalah dua tanda-tanda kekuasaan Allah, maka apabila kalian melihat gerhana, maka berdo’alah kepada Allah, lalu sholatlah sehingga hilang dari kalian gelap, dan bersedekahlah.” (HR Bukhari-Muslim)
Pada artikel kali ini akan kami kupas secara tuntas definisi gerhana, cara shalat gerhana bulan dan matahari disertai dengan niatnya.

Bahasan Seputar Shalat Gerhana

Shalat gerhana adalah shalat yang dikerjakan ketika terjadi gerhana matahari atau bulan. Bila terjadi gerhana matahari maka shalat yang dikerjakan disebut Shalat kusuf. Sedangkan bila terjadi gerhana bulan maka disebut shalat khusuf.

Shalat gerhana dikerjakan sebanyak 2 rakaat dengan 4 kali ruku dan 4 kali sujud. Setiap 1 rakaat 2 kali berdiri dengan membaca surat atau ayat yang panjang, 2 kali ruku dengan memanjangkan bacaan tasbih, dan 2 kali sujud tanpa memanjangkan bacaan tasbih.

Waktu Pelaksanaan Shalat Gerhana

Waktu pelaksanaan shalat gerhana ialah sejak mulai terjadinya gerhana hingga berakhir, kembali seperti keadaan semula. Shalat gerhana ini hukumnya sunnat mu’akkad yang boleh dikerjakan sendiri-sendiri tetapi lebih utama berjamaah.

Dalam shalat gerhana matahari, bacaan hendaklah direndahkan (sir) sedangkan dalam shalat gerhana bulan bacaan dikeraskan sama seperti shalat yang kita kerjakan 5 waktu.

Cara Pelaksanaan Shalat Gerhana

1. Berdiri tegak menghadap qiblat dan berkonsentrasi, lalu mambaca lafadz niat shalat gerhana:

Jika Gerhana Matahari Niatnya :

أُصَلِّيْ سُنَّةَ لِكُسُوْفِ الشَّمسِ رَكْعَتَيْنِ لِلَّهِ تَعَالَى

USHALLII SUNNATAL KUSUUFIS-SYAMSI RAK’ATAINI LILLAHI TA’ALAA..
Artinya : ”Aku niat (melaksanakan) shalat sunnah Gerhana Matahari dua rakaat karena Allah ta’ala“

Jika Gerhana Bulan Niatnya:

أُصَلِّيْ سُنَّةَ لِخُسُوْفِ الْقَمَرِ رَكْعَتَيْنِ لِلَّهِ تَعَالَى

USHALLII SUNNATAL KHUSUUFIL-QOMARI RAK’ATAINI LILLAHI TA’ALAA
Artinya : ”Saya niat (melaksanakan) shalat sunnah Gerhana Bulan dua rakaat karena Allah ta’ala“

2. Setelah itu mengangkat kedua tangan setinggi bahu dan jari-jari sejajar dengan telinga sambil membaca kalimat takbir “ALLOOHU AKBAR” pada saat membaca takbir dalam hati kita mengatakan :

Jika gerhana matahari:
“Aku (niat) shalat sunat gerhana matahari 2 rakaat karena Alloh ta’ala”

Jika gerhana bulan :
“Aku (niat) shalat sunat gerhana bulan 2 rakaat karena Alloh ta’ala”

Jika menjadi makmum, setelah kata “RAK’ATAINI” ditambah dengan kata “MA’MUMAN” (مَأْمُوْمًا لِلّهِ تَعَالَى) (mengikuti imam) atau jika hendak menjadi imam maka ditambah dengan kata “IMAAMAN” (اِمَامًا لِلّهِ تَعَالَى) (menjadi imam)

3. Setelah itu membaca do’a iftitah, ta’awudz, surat Al-Fatihah dan surat atau ayat-ayat yang panjang, lalu ruku dengan membaca tasbih yang lamanya sama dengan waktu berdiri.

4. Kemudian berdiri kembali seperti semula (I’tidah) membaca ta’awudz, surat al-Fatihah dan surat atau ayat –ayat lain yang lebih pendek dari pada yang dibaca pada rakaat pertama. Lalu ruku lagi dengan membaca tasbih yang lamanya sama dengan waktu berdiri.

5. Setelah itu I’tidal seperti pada shalat fardhu, sujud, duduk diantara sujud dua, sujud lagi yang ke dua dan berdiri kembali untuk mengerjakan rakaat yang ke dua.

6. Cara mengerjakan rakaat ke dua sama dengan rakaat pertama. Akan tetapi rakaat ke dua ini hendaklah dikerjakan lebih pendek dari pada rakaat pertama. Jika telah selesai mengerjakan rakaat ke dua, maka dilanjutkan dengan tasyahud akhir dan diakhiri dengan memberi salam ke kanan dank e kiri.

Setelah selesai melaksanakan shalat gerhana maka disunatkan melaksanakan khutbah dua yang rukun dan syaratnya sama dengan khutbah dua pada shalat jum’at. Kedua khutbah itu hendaknya berisi anjuran untuk bertaubat dan memperbanyak berbuat baik seperti shadaqah dan amalan lainnya.


Advertisement